Pertama ajaklah anak untuk berterima kasih kepada Tuhan atas kasih-Nya yang begitu besar. Bacalah kisah Natal (Matius 1: 18 s/d 2:1-12; Lukas 2:1-20) kemudian bacalah Filipi 2:5-11 untuk menjelaskan makna pengorbanan kedatangan Kristus ke dunia.Berilah kesempatan kepada setiap anggota keluarga untuk menyatakan syukur kepada Allah Bapa yang telah rela melepaskan Kristus datang ke dunia untuk
AnakKembar Oleh: Pdt. Nathanael Channing Filipi 2:1-11 Sesuatu yang unik terjadi ketika sebuah keluarga dikaruniai anak kembar. Tentunya dalam pengertian kembar persis, baik dalam hal paras, gaya, tingkah laku, bahkan mungkin juga kemauan mereka. Memang tergantung dari benih awalnya, apakah itu berasal dari satu telur atau dua telur. Tentunya yang bisa menjelaskan lebih rinci
Adapunpembacaan alkitab pada perayaan tersebut terdapat didalam Firman Tuhan dari Matius 22 : 14, dilanjutkan dengan Khotbah dan pelantikan pengurus KKBSU Timika. Rangkaian acara prosesi pelantikan tersebut untuk pengurus KKBSU (Kerukunan Keluarga Besar Sulawesi Utara) di Timika yang baru periode 2016 - 2021.
TataPerayaan Ibadat Sabda Tanpa Imam Beserta Uraiannya. Pada hari Minggu, umat Katolik akan melakukan ibadah rutin di gereja dengan sidang-sidang lain. Dalam implementasinya, ibadah dapat dilakukan dengan atau tanpa pendeta. Dan dalam artikel ini prosedur untuk pemujaan kata tanpa imam akan dijelaskan dan tahapannya adalah sebagai berikut:
Terasabanget, damai dan sukacita Natal ada bersama kaliyyan. Wow Nah, kalo kyk gini kan enak dilihatnya. Pada rukun-rukun, dan akrab. "Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!" (Maz.133:1) Jodoh, gak jodoh, tetap berteman dan bersaudara. Bagus 'kan? Indah dilihatnya.
IbadahNatal untuk keluarga dihadiri oleh anggota keluarga yang ada. Untuk itu disiapkan Lilin Besar dan Salib di tengah meja. Saat Hening Votum (Ayah): "Pertolongan kita adalah dalam nama Tuhan yang telah menjadikan langit dan bumi." Salam (Ayah): "Kasih-karunia Tuhan menyertai setiap kita. Tuhan beserta kita."
SktMn2. Keluarga yang bahagia dan diberkati Tuhan ~ Landasan firman Tuhan untuk tema tersebut diambil dari kitab Tawarikh. Penulis kitab Tawarikh menegaskan bahwa “Bukan engkau yang akan membangun rumah bagi-KU, tetapi AKU TUHAN yang akan membangun rumah bagimu” – 1Tawarikh 174c,n 10d. Secara teologis, keluarga ada karena desain, rancangan Tuhan. Hal ini ditandai dengan hadirnya keluarga pertama yaitu keluarga Adam dan Hawa. Dengan demikian, ide, gagasan, desain atau rancangan tentang keluarga sesungguhnya bertumpu dan bersumber dari Tuhan. Keluarga adalah komunitas terkecil yang membentuk suatu masyarakat. Sekalipun kelompok kecil dalam masyarakat, namun peran dan fungsi keluarga itu sangat penting dan strategis. Dikatakan demikian, karena bila keluarga sehat, maka lingkungan juga sehat, kalau lingkungan sehat, maka masyarakat juga sehat, kalau masyarakat sehat pasti negara juga sehat. Ketika Daud hendak membangun “rumah” bagi TUHAN, TUHAN menolaknya dan berjanji sebaliknya bahwa TUHAN yang akan membangun “rumah” bagi Daud. “Rumah” bagi Daud bukan berbicara istana yang megah, tetapi tentang keluarga yang kokoh, yang diberkati untuk selama-lamanya. Bagi TUHAN, “rumah” tempat tinggal tidaklah lebih penting dibanding “keluarga”. Keluarga adalah rumah yang kekal, sebab di dalam keluargalah TUHAN mencurahkan berkat-NYA. Melalui keluarga jugalah, umat TUHAN menjadi saksi bagi dunia ini. Pertanyaan penting yang perlu diajukan ialah “Bagaimana menjadi keluarga yang diberkati dan menjadi saksi itu?” Berdasarkan firman Tuhan di atas, maka menjadi keluarga yang diberkati harus ada beberapa hal penting, yaitu 1. Tuhan hadir dalam keluarga Keluarga yang diberkati dan menjadi saksi ialah ditandai dengan hadirnya Tuhan dalam keluarga. Artinya, keluarga senantiasa membangun mesbah bagi Tuhan. Suami adalah kepala dan juga sekaligus sebagai imam yang senantiasa mempersembahkan keluarganya di hadapan Tuhan. Ketika Tuhan hadir dan dihadirkan dalam keluarga, maka kehadiran-Nya pasti memberkati keluarga itu. Penulis kitab Mazmur menulis “Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!” – Mazmur 1281b. Tuhan hadir dalam keluarga ketika semua anggota keluarga memiliki hati yang takut akan Tuhan. Bukti takut akan Tuhan diperlihat dalam sikap dan perbuatan yang taat kepada perintah-perintah Tuhan. 2. Keluarga yang harmonis Keluarga yang diberkati oleh Tuhan adalah keluarga yang hidup rukun, hidup harmonis dan hidup saling menghormati satu dengan yang lainnya. Ketika semua anggota keluarga hidup rukun, hidup harmonis dan hidup saling menghormati, maka kata Alkitab bahwa Tuhan akan memerintahkan berkat ke dalam keluarga tersebut. Penulis kitab Mazmur menulis demikian “Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan leher jubahnya. Seperti empun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya” – Mazmur 1331-3. 3. Keluarga yang berperan dan berfungsi dengan baik Keluarga yang diberkati oleh Tuhan adalah keluarga yang berperan dan berfungsi dengan baik dan sebagaimana mestinya. Istri tunduk kepada suami dan suami mengasihi istri serta anak-anak menghormati dan taat kepada orangtuanya. Rasul Paulus menulis “Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepada jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh ... Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” – Efesus 522-25. Selanjutnya rasul Paulus menasehati anak-anak dengan menulis “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu – ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi” – Efesus 61-3.
Orang yang berada di padang pasir yang panas, kering dan tandus pasti butuh air apalagi saat haus. Setetes air di padang gurun pasti tidak akan cukup memuaskan dahaga tetapi setidaknya setetes air itu bisa memberikan harapan, harapan untuk bertahan, harapan untuk meneruskan perjalanan, harapan untuk hidup. Natal Yesus Kristus adalah sebuah harapan di tengah kegelapan dosa, Kita merayakan Natal Tahun ini dalam Tema “Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga”. Tema perayaan Natal ini mengajak kita untuk menyadari kehadiran Allah dalam keluarga dan bagaimana keluarga berperan penting dalam sejarah keselamatan. Yesus Putera Natal terlahir dalam kehidupan sebuah keluarga yakni Keluarga Yusuf dan Maria. Kelahiran Yesus menguduskan keluarga Maria dan Yusuf dan menjadikan keluarga muda itu sumber sukacita yang mengantar orang berjumpa dengan Allah. Ada para Gembala datang bergegas menjumpai keluarga Maria, Yusuf, dan Yesus yang terbaring dalam palunganLuk 2 20. Ada orang-orang Majus datang dari Timur untuk berjumpa dengan Yesus dan menyembah Yesus Mat 2 12. Perjumpaan dengan Yesus membuat hidup para gembala dan Majus berubah. Para gembala menjadi orang-orang yang memuji dan memuliakan Allah. Para Majus menjadi orang – orang yang tidak lagi mengikuti jalan Herodes tapi mengikuti jalan Tuhan. Natal merupakan sukacita bagi keluarga karena Yesus Sumber Sukacita memilih hadir di dunia melalui keluarga. Yesus menerima dan menjalani kehidupan sebagai seorang manusia dalam sebuah keluarga. Melalui Yusuf sang Tukang kayu dan Maria, Yesus bertumbuh menjadi anak yang penuh hikmat dan manusia yang taat kepada Allah sampai mati di kayu salib. Dalam perayaan Natal ini, berkat yang diperoleh Maria dan Yusuf juga hadir dalam kehidupan keluarga kita masing – masing. Berkat dan pesan Natal bagi kita melalui Tema Natal Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga yaitu Pertama, karena Sang Imanuel lahir dalam suatu keluarga, keluarga pun menjadi ”bait suci”, yaitu tempat pertemuan manusia dengan Allah. Karena itu tema Natal ini mengandung ajakan agar keluarga – keluarga Kristen menjadi rumah pendidikan iman, menjadi sekolah doa bagi anggota-anggota keluarga. Kedua, tema ini membawa kita pada kesadaran betapa luhurnya keluarga dan betapa bernilainya hidup sebagai keluarga karena di situlah Tuhan yang dicari dan dipuji hadir. Keluarga sepatutnya menjadi bait suci di mana kesalahan diampuni dan luka-luka disembuhkan. Ketiga, tema Natal ini mendorong kita untuk meneruskan sukacita keluarga bahwa keluarga menjadi rumah bagi setiap orang yang sehati-sejiwa berjalan menuju Allah, saling berbagi satu sama lain hingga mereka pun mengalami kesejahteraan lahir dan batin. Keempat, tema Natal ini mengundang keluarga untuk menjadi setetes air yang memberi harapan bagi persoalan – persoalan baik dalam keluarga sendiri maupun dalam dunia. Tiap – tiap keluarga punya persoalan dan pergumulan sendiri. Ada masalah kebutuhan ekonomi, soal makan, minum dan pakai tiap - tiap hari, ada pergumulan karena anggota keluarga yang sakit, ada masalah antara orang tua dan anak, kakak dan adik, mertua menantu, ada masalah antara suami dan istri masalah karena orang ketiga, masalah perselingkuhan, masalah ketidakjujuran dalam rumah tangga, ada masalah kenakalan remaja dan masalah moral anak - anak muda anak – anak yang terjerumus miras, narkoba, dan melakukan tindakan - tindakan kriminal, ada pergumulan anak-anak muda soal pekerjaan, soal jodoh, soal masa depan. Ada persoalan setiap anggota keluarga sibuk dan sulit punya waktu untuk menikmati kebersamaan atau untuk bersekutu di Gereja. Pokoknya kita semua menyadari bahwa ada banyak persoalan di dalam dan di sekitar keluarga bahkan ada persoalan yang terasa sulit untuk diselesaikan. Persoalan – persoalan itu menjadi tantangan besar dalam keluarga. Tetapi sebagaimana Natal Yesus Kristus sanggup memulihkan akar dosa di Eden, maka Perjumpaan dengan Allah dalam setiap keluarga sanggup mengubah Krisis menjadi berkat. Juga memberi harapan di tengah berbagai Persoalan. Kelima, ada keluarga – keluarga yang merayakan Natal tapi merasa kurang lengkap karena orang – orang terkasih yang sudah pergi mendahului; Ada merayakan Natal tanpa Papa atau Mama, atau salah satu saudara, atau anak. Para perantau merayakan Natal jauh dari keluarga, atau orang - orang terkasih yang tidak bersama saat ini. Tapi Natal memberi kepada kita harapan, ibarat setetes air di padang gersang memang tak dapat memuaskan dahaga tapi dapat memberi harapan. Keenam, Kita bersyukur atas perjuangan banyak orang untuk membangun keluarga Kristiani sejati, di mana Allah dijumpai. Kita berdoa bagi keluarga yang mengalami kesulitan supaya diberi kekuatan untuk membuka diri agar Yesus pun lahir dan hadir dalam keluarga mereka. Marilah kita menghadirkan Allah dan menjadikan keluarga kita sebagai tempat layak untuk kelahiran Sang Juru Selamat. Di situlah keluarga kita menjadi rahmat dan berkat bagi setiap orang; kabar sukacita bagi dunia. Tuhan memberkati. SELAMAT MERAYAKAN NATAL.
Tema Natal “Hidup Bersama Sebagai Keluarga ALLAH”, dengan Sub Tema “Natal memotivasi kita untuk memelihara kerukunan hidup dengan ALLAH, sesama dan lingkungan.” “Sekarang malam telah lenyap dan fajar baru kini menyapa kita. Waktu memang berputar begitu cepat, dan tak terasa hari Natal pun kembali menjelang. Sejenak kita meninggalkan segala kesibukan dan berhimpun di sini sambil memandang pada Betlehem, kota mungil tempat Allah telah menyatakan diri dalam rupa manusia. Dan dalam kebersamaan sebagai orang-orang percaya, sehati mengangkat doa dalam pengharapan akan Hidup Bersama Sebagai Keluarga ALLAH.” Demikian sepenggal kalimat yang dikutip dari Liturgi Kebaktian Natal 25 Desember 2015 Ajakan Beribadah. Kebaktian Natal di Jemaat Gunung Sinai Naikolan dipimpin oleh pelayan tamu, Pdt. Jodi Nenobais-Kebang, dari Jemaat Betlehem Oesapa Barat-Klasis Kupang Tengah. Pembacaan Firman Tuhan terambil dari Kitab Kejadian 912-17 “Perjanjian Allah dengan Nuh” dan Injil Lukas 28-20 “Gembala-gembala.” Mengawali khotbahnya, Pdt. Jodi Nenobais-Kebang, menyoroti tentang semarak perayaan Natal yang cenderung telah menggeser makna Natal yang sebenarnya yakni kesedehanaan. Natal saat ini lebih bersifat ekonomis; mencari keuntungan daripada hidup dalam kebersamaan. ………………………………………………………. Dalam Kejadian 91-17, simbol pelangi yang menjadi tanda kehidupan yang baru/pembaharuan ciptaan Allah. Harapan hidup yang baru juga hadir dalam Yesus Kristus. Harapan hidup baru dimulai dari keluarga, karena Yesus juga lahir dari sebuah keluarga. Yesus lahir memabawa sukacita dan kelepasan. ………………………………………………………. Tema di atas mengajak kita untuk hidup bersama sebagai keluarga Allah. Untuk mewujudkannya, kita memiliki tugas dan tanggungjawab sebagai berikut Melakukan teladan Yesus dengan cara mengembangkan hidup sederhana, peduli satu dengan yang lain, tidak serakah dan tidak egois. Hidup damai, rukun, adil, bahagia dalam keanekaragaman sebagai keluarga Allah walaupun adanya tantangan berupa kesenjangan dan perbedaan yang bisa menjadi faktor penghambat. Hidup dalam kasih; kita merayakan Natal karena kasih Allah yang begitu besar kepada kita. Oleh sebab itu, kita juga harus hidup dalam kasih terhadap sesama, dan rela berkorban demi kebaikan orang lain. Menjaga keutuhan ciptaan Allah dengan memelihara kerukunan hidup dengan Allah, sesama dan lingkungan lihat Sub Tema. Mengakhiri khotbahnya, Pdt. Jodi Nenobais-Kebang, menekankan behwa merayakan Natal bukan sekedar merayakan sukacita, melainkan melakukan tindakan nyata untuk memelihara keutuhan ciptaan dan memelihara kerukunan hidup. Kebaktian Natal 25 Desember 2015 di Jemaat Gunung Sinai Naikolan juga diisi dengan permainan musik dari grup “Kolaborasi Musik Anak Jemaat Betlehem Oesapa Barat”. Selamat merayakan Natal 25 Desember 2015! Tuhan Yesus berkati!
khotbah natal rukun keluarga